Thursday, September 20, 2012

Mengapa Banyak Lulusan IT Yang Mengecewakan?

Kode Direktori

Assalamualaikum.
Hay teman-teman Kali ini saya ingin berbagi artikel dengan teman-teman. Gak sengaja saya dapat page yang isi dapat mencambuk para alumnus IT. dan saya artikel ini saya dapat saat saya sedang jalan-jalan di dunia maya. Ya kalau menurut saya, artikel yang saya dapat ini bagus banget, mengenai Mengapa Banyak Lulusan IT Yang Mengecewakan? Statistik menurut hasil riset saya juga seperti itu. Entah kenapa bisa seperti itu. 

Baik, saya gak akan panjang lebar membuat intro nya, teman-teman bisa langsung baca saja Artikel yang telah saya dapat ini :

Beberapa hari yang lalu, detikINET merilis berita berjudul “Lulusan TI Banyak yang Mengecewakan“. Berikut potongan beritanya: 

“Banyak pelamar tidak seperti yang kita harapkan. Kita sering kecewa. IPK (indeks prestasi)-nya tinggi, bagus secara kualifikasi. Tapi saat ditanya hal yang dasar, yang menurut kami mereka mengusainya, mereka tidak bisa. Dan banyak yang seperti ini” – Ahmad Bagus Santoso, Human Resource Departement PT Indocyber Global Teknologi kepada detikINET di sela acara JobsDB Career Expo 2010 di Sasana Budaya Ganesha, Tamansari, Bandung, Sabtu 
(16/1/2010)*

Tepat di hari berita tersebut dirilis, saya mendengarkan perkataan teman sekelas di kampus, yang berkaitan dengan berita di atas.
Berawal dari seorang dosen yang kelasnya membosankan. Menurut mahasiswa, Ibu dosen ini kurang aktif dalam proses belajar mengajar. Sepanjang jam perkuliahan selalu duduk di kursi, materi yang dijelaskan dalam bentuk dokumen (.doc) bukan presentasi (.ppt), tidak memanfaatkan white board, dan menjelaskan materi hanya dengan membaca dokumen tadi. “Mahasiswa juga bisa kalau cuma baca, tinggal dikasih materinya”.
Ibu dosen ini memang mengadakan sesi tanya jawab di setiap sesi kuliahnya, tapi respon mahasiswa selalu nihil. Pengalaman sendiri, melihat Ibu dosen yang malas bergerak (selalu nempel di kursi), saya juga malas mengikuti kuliahnya. Membosankan.
Mungkin karena penasaran dengan profile Ibu Dosen tadi, ada teman sekelas yang ‘menguntit’ rekam jejak profesi kedosenannya. Pada website kampus, tertera bahwa si Ibu juga membawakan mata kuliah lain. Penguntitan berlanjut. Tertera pada syllabus, materi kuliah Ibu Dosen hanya menyangkut jenis dan manfaat tools yang digunakan terkait mata kuliah yang dibawakan. Tidak ada materi bagaimana menciptakan objek A atau B, padahal seharusnya mata kuliah tersebut menghasilkan skill dalam bidang TI. “Kok bisa jadi dosen, sih?”.
Awal dari perbincangan teman tadi adalah kejadian pada kelas sebelumnya, kelas Pemograman Berbasis Objek. Materi yang disampaikan adalah Swing, tampilan GUI di Java. Pak Dosennya memberikan latihan praktikum membuat program Menghitung Gaji Dosen, dimana terdapat dua radio button untuk memilih status dosen, dosen tetap atau dosen honor. Berhubung editor-nya menggunakan JCreator, maka pendefinisian (termasuk pengaturan layout tampilan) komponen dilakukan dengan kode program, tidak bisa drag and drop. Kemudian ada teman yang bertanya bagaimana pengaturan layout radio button tersebut, agar tampilannya sejajar dengan textbox nama dan jumlah sks yang berada di atas dan bawah kedua radio button tersebut. Singkatnya, Pak Dosen tidak bisa memberikan jawaban. Tapi, Pak Dosen meminta mahasiswa mengumpulkan latihan praktikum tersebut dan berpengaruh pada komponen nilai tugas. “Ya, Dosen kacau”.
Perhitungan Gaji DosenSaya miris sendiri mengalami kondisi seperti ini. Ibu dosen tampak tidak berbakat/berminat. Pak Dosen menuntut suatu keahlian yang Pak Dosen benar-benar tidak bisa. Sekali pun Pak Dosen tidak bisa, seharusnya beliau punya jawaban bagaimana mahasiswa bisa menemukan jawaban, bukan diam dan cuma berkata ‘gimana ya?!’. Masalahnya dimana?
Mengenai Ibu Dosen yang tampak kurang berminat, itu soft skill yang harusnya si Ibu kuasai. Kalau Pak Dosen, saya kira lebih jelas: Pak Dosen tidak punya skill yang cukup untuk bidang yang dibawahinya. Masalah sepele, cuma pengaturan layout. Lewat memanfaatkan google pasti ketemu solusinya. Tapi, koneksi internet di lab. komputer tersebut pun secara default tidak terhubung. Koneksi internetnya terhubung jika hanya ada request dari dosen.
Sekarang cukup jelas mengapa banyak lulusan TI yang mengecewakan. Menurut saya, kemampuan dosen dan fasilitas harus menjadi perhatian utama. Kurikulum akan menjadi perhatian selanjutnya, menyesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja baik lokal maupun global. Sekarang yang saya bingungkan, apakah Departemen Pendidikan kita menyadari hal seperti ini? Mudah-mudahan saja.
Sepertinya tidak hanya itu saja penyebab banyaknya lulusan TI yang mengecewakan, ada yang lain?
*Gambar diambil dari link yang sama

Sumber